Lynx bergerak dengan kecepatan yang begitu luar biasa hingga tubuhnya hanya terlihat sebagai bayangan yang melintas. Dalam satu gerakan yang seakan tak terduga, ia menembus celah di antara serangan-serangan para petarung. Keempat petarung, yang sebelumnya bergerak dengan sinergi yang sangat terkoordinasi, tiba-tiba saling bertubrukan.

Setelah menjejakkan kaki diatas bahu Rhaegor, Lynx melompat dan mendorong Zehytra yang membalikkan badan setelah tonfa plasma-nya tidak mengenai target. Zehytra yang tidak menduga serangan balasan yang dilakukan Lynx, tidak dapat menghindar. Segera Zeythra terlempar ke samping dan menghantam Largan yang hendak menembakkan lagi proyektil ke arah Lynx, sehingga tabrakan Zeythra membuat tembakan tersebut meluncur ke arah udara kosong.

Dan tabarakan itu tidak berhenti begitu saja. Tubuh Zeythra menabrak Vaelzorr yang hendak menyerang Lynx hingga ikut terpental ke belakang, dan rudalnya meluncur ke arah Rhaegor yang ingin menendang dengan kekuatan besar. Menyebabkan terciptanya ledakan kecil yang mengguncang arena.

Saat kekacauan itu terjadi, Lynx mengabaikan keempat petarung yang sedang terjatuh dan bergerak dengan santai menuju Grakkon yang sedang kebingungan melihat rekannya yang saling bertabrakan.

Melihat Lynx melangkah mendekat ke arahnya, amarah Grakkon memuncak. Dengan raungan keras, ia mengayunkan tinju raksasanya ke arah kepala Lynx. Niatnya menghancurkan Lynx dalam sekali serangan untuk melampiaskan kemarahannya.

Namun, dalam gerakan yang tampak santai namun secepat kilat di mata Grakkon dan para penonton, Lynx menghindar tanpa ampun. Tangannya terulur, mencengkeram kaki raksasa itu dengan kekuatan yang menakjubkan. Dalam satu gerakan mulus, Lynx mengangkat tubuh besar Grakkon ke udara, lalu membantingnya ke tanah dengan kekuatan dahsyat. Anehnya, meskipun suara benturan keras menggema di seluruh arena, lantainya tetap utuh, tanpa debu beterbangan atau retakan yang terlihat.

Grakkon meraung marah, berusaha melepaskan diri, namun sia-sia. Lynx, tanpa mengubah ketenangan di wajahnya, kembali mengangkat tubuh besar itu dan membantingnya sekali lagi, kali ini dengan kekuatan yang lebih besar. Suara keras menghentak telinga para penonton.

"Apa yang dilakukannya?" seru seorang penonton dengan mata membelalak.

"Kurasa dia membalas perlakuan Grakkon terhadap wanita itu. Lihat caranya, sama persis!" jawab yang lain, nadanya penuh semangat.

"Orang itu akan kecewa kalau berharap bisa melukai Grakkon dengan bantingan seperti itu," tambah seorang lagi sambil terkekeh, melihat Grakkon dibanting keras tanpa tampak mengalami luka.

"Tubuh Grakkon paling kuat di dunia ini. Serangan seperti itu hanya membuatnya semakin marah. Aku yakin setelah ini, orang itu akan menerima pembalasan dari Grakkon." Jawab yang lainnya.

Namun kenyataan berbeda di tubuh Grakkon. Meski permukaannya tak menunjukkan cedera, rasa sakit luar biasa menggerogoti tulangnya. Saat membanting, Lynx diam-diam melapisi lantai dengan energi sakti, membuat benturan terasa seolah tubuh Grakkon dihantam baja murni.

Setelah puas menghajar Grakkon berkali-kali, Lynx melepaskannya begitu saja. Ia berdiri tenang, memandang keempat lawan lainnya yang kini terdiam, terkejut menyaksikan betapa mudahnya Lynx menghadapi Grakkon.

"GRAAAAGGGHHHHHH...."

Grakkon, tubuhnya penuh rasa sakit dan amarah meluap, kembali menerjang Lynx. Langkahnya goyah, kepalanya berdenyut hebat, namun semangatnya tak padam.

Begitu berada dalam jangkauan, Grakkon menerkam tubuh Lynx, berusaha membantingnya. Ia mengerahkan seluruh kekuatannya, otot-otot besarnya menegang, tubuhnya mengembang makin besar karena ledakan Qi amarah. Namun anehnya, tubuh Lynx seolah melekat pada tanah, tak bergeming sedikit pun.

Mata Grakkon membelalak, urat-uratnya menonjol, tetapi sekeras apa pun ia mencoba, Lynx tetap berdiri kokoh bagai gunung yang tak tergoyahkan.

Para penonton, hingga pimpinan The Circuit serta keempat petarung lainnya, menatap ke arah Lynx dan Grakkon dengan mata tak percaya. Vaelzorr dan Rhaegor bahkan mulai merasakan ketakutan yang merayap di hati mereka. Mereka berdua mengenal betul kekuatan Grakkon, yang bahkan mereka tak sanggup hadapi secara langsung. Namun kini, di hadapan mereka, Lynx memperlakukan raksasa itu seolah tak lebih dari boneka tanah liat.

"Serang dia sekarang, sebelum dia bisa melepaskan diri dari Grakkon!" seru Largan, nadanya penuh kemarahan.

Tanpa menunggu aba-aba lagi, keempatnya serempak mengerahkan kekuatan penuh, menyiapkan serangan terkuat mereka untuk menghancurkan Lynx dalam satu serangan.

Melihat gerakan itu, Lynx tetap tenang. Ia membanting Grakkon ke tanah sekali lagi, lalu dengan sigap menangkap kakinya sebelum tubuh besar itu sempat jatuh sepenuhnya. Menggunakan tubuh Grakkon layaknya senjata raksasa, Lynx melangkah maju, mengayunkannya dengan kekuatan luar biasa.

Tubuh Grakkon meluncur ke arah Largan, menghantam dadanya dengan keras. Tubuh Largan terpelanting ke belakang, terjungkal di atas lantai arena, sementara meriam ganda yang terpasang di lengannya tercabut dan terlempar jauh.

Zeythra, yang mencoba menyerang dari sisi kanan, ikut terhempas oleh ayunan tubuh Grakkon. Tonfa plasmanya terlempar dari genggaman, dan ia terjatuh ke tanah dengan tubuh penuh luka.

Vaelzorr dan Rhaegor, tak mau kalah, melancarkan serangan. Namun dalam sekejap mata, Lynx telah bergerak lebih cepat. Ia melemparkan tubuh Grakkon ke arah mereka. Tumbukan keras membuat Vaelzorr terhempas ke udara, sementara Rhaegor terjatuh dan terguling di tanah dengan berat.

Keempat petarung itu, kini terdesak dan merasa dipermainkan, mulai membiarkan amarah mereka membuncah. Mata mereka merah membara, dan semangat bertarung dalam tubuh mereka pun terbangkitkan. Zeythra bangkit dengan susah payah, darah mengalir dari luka-lukanya. Largan kembali mengaktifkan meriamnya. Vaelzorr memanggil keluar rudal berat di bahunya, dan Rhaegor, dengan tubuh bergetar, memaksa dirinya berdiri.

Aura membunuh dari keempatnya bergemuruh, membungkus tubuh mereka dalam kekuatan mengerikan.

"Ini saatnya!" teriak Vaelzorr, suaranya bergemuruh di seluruh arena. "Bersama, kita akan menghancurkan pemuda ini!"

Keempatnya mengerahkan kekuatan penuh mereka. Gelombang energi ledakan dari tonfa Zeythra, tembakan proyektil raksasa dari Largan, rudal-rudal berat Vaelzorr yang melesat seperti meteor, dan pukulan jarak jauh yang mematikan dari Rhaegor menghantam udara, membuat arena bergetar hebat.

Namun Lynx tetap berdiri tenang. Matanya yang jernih menangkap semua gerakan mereka. Saat serangan mendekat, sosok Lynx menghilang dari pandangan, meninggalkan hanya suara gemuruh dari serangan yang menghancurkan udara.

Penonton menahan napas, nadi mereka berdegup kencang. Tak pernah sebelumnya mereka melihat pemandangan semacam ini. Banyak yang yakin, kali ini orang misterius itu tak mungkin selamat.

Di atas ruangan khusus, pimpinan The Circuit menyaksikan semua itu dengan mata berbinar. Kegembiraan memenuhi dadanya. Jika para petarung itu gagal mengalahkan Lynx, ia bertekad untuk mendapatkan pemuda itu sebagai sekutu, apa pun caranya. Namun jika Lynx tewas, ia akan membayar berapa pun harga untuk mempelajari dan membuat pakaian tempur yang luar biasa itu dalam jumlah banyak.

Beberapa waktu telah berlalu, dan arena menunjukkan pemandangan yang jauh dari harapan mereka. Sosok Lynx dan Leena telah lenyap dari pandangan. Pencarian dilakukan ke setiap sudut arena, bahkan pembawa acara mengarahkan lensa ke segala penjuru, namun hasilnya tetap nihil.

"Lihat! Serangan mereka berhasil. Orang itu hancur tanpa sisa," seru seorang penonton dengan penuh keyakinan.

"Benar, tidak mungkin ada yang bisa bertahan dari serangan seperti itu," sahut yang lain dengan suara lantang.

"PARA PENONTON... KITA BARU SAJA MENYAKSIKAN PERTARUNGAN YANG MENGGUNCANG! UNTUK PERTAMA KALINYA, PARA PETARUNG KITA BERGABUNG..."

Belum sempat suara pembawa acara selesai menggelegar, sesuatu terjadi di tengah arena.

Para petarung yang semula bertekad untuk melumpuhkan Lynx, kini terjatuh satu per satu, tubuh mereka terkulai lemas di lantai arena. Tak ada pertarungan, hanya keheningan yang mencekam. Zeythra, Largan, Vaelzorr, Rhaegor, dan Grakkon, semuanya terjatuh tanpa sempat berbuat apa-apa. Mereka yang sebelumnya penuh dengan kekuatan dan amarah, kini tergeletak tak berdaya, seolah kekuatan mereka lenyap begitu saja.

Zeythra, Largan, Vaelzorr, Rhaegor, dan Grakkon, yang sebelumnya membangkitkan aura menakutkan, kini tergeletak tak berdaya, seolah kekuatan mereka telah dilenyapkan dari dalam tubuh.

Beberapa saat sebelumnya, setelah serangan mereka berempat di lepaskan, dalam sekejap, Lynx bergerak cepat menghindari serangan-serangan terkuat mereka dan menyerang mereka satu persatu dengan tenaga yang sudah diatur sedikit mungkin agar mereka tidak terbunuh. Bahkan Grakkon yang memiliki fisik sangat kuat tidak mampu menahan pukulan Lynx.

